Kamis, 18 Maret 2010

TIPS MENGHADAPI UJIAN NASIONAL

Untuk menghadapi ujian nasional yang makin berat tiap tahunnya. Diperlukan cara-cara belajar yang tepat dan benar agar dapat memperoleh nilai yang memuaskan. Mengigngat batas kelulusan Unas (Ujian Nasional) akan terus meningkat dari tahun ke tahun, kita haruslah jeli alam menyikapinya. Berikut ini tips UNAS (Ujian Nasional) yang dapat kita terapkan agar dapat lulus dengan nilai memuaskan :
1.Belajarlah dengan disiplin
2.Ikutlah Bimbingan Belajar Intensif Ujian Nasional
3.Buatlah jadwal untuk latihan soal ujian Nasional
4.Luangkan lebih banyak waktu untuk mempelajari pelajaraan yang anda anggap paling sulit.
5.Cobalah untuk mengikuti Try Out UNAS (Ujian Nasional)
6.Carilah soal-soal Prediksi UNAS (Ujian Nasional)
7.Download soal-soal UNAS (Ujian Nasional) tahun-tahun sebelumnya
8.Banyak berdoa dan beramal
Dengan usaha-usaha yang kita lakukan, tentunya mudah untuk menembus batas minimal kelulusan Ujian Nasional. Manfaatkanlah internet untuk memperoleh tambahan soal dengan download soal ujian Nasional SMA. Caranya mudah, cukup tulis “Download Soal UNAS” di Google/ Yahoo/ search engine lain. Dengan cara itu, maka lulus ujian nasional bukanlah hal yang sulit dicapai. Singkat kata, dengan kondisi yang menuntut kita untuk menjadi siswa yang mampu lulus ujian nasional, hendaknya kita mulai mempersiapkan diri kita dari sekarang. Ikutlah berbagai Try Out ujian Nasional, Bimbingan Belajar/Kursus Intensif Ujian Nasional, atau dengan mendownload soal-soal Ujian Nasional

FENOMENA SUNGAI BAWAH LAUT

FENOMENA sungai di bawah air laut menggetarkan dunia. Siapa yang bisa percaya bahwa di dalam lautan air asin, ada sungai yang berisikan air tawar. Sungguh bukan sesuatu yang masuk akal. Tetapi konon, peristiwa itu rupanya sudah terekam di dalam Al-quran, pegangan hidup kaum Muslimin. Ada dua buah surat dari 114 surat di dalam Al-quran yang menyinggung tentang fenomena menggemparkan tersebut.

“Akan Kami perlihatkan secepatnya kepada mereka kelak, bukti-bukti kebenaran Kami di segenap penjuru dunia ini dan pada diri mereka sendiri, sampai terang kepada mereka, bahwa al-Quran ini suatu kebenaran. Belumkah cukup bahwa Tuhan engkau itu menyaksikan segala sesuatu. ” (QS Fushshilat : 53)

“Dan Dialah yang membiarkan dua laut mengalir (berdampingan) ; yang ini tawar lagi segar dan yang lain masin lagi pahit; dan Dia jadikan antara keduanya dinding dan batas yang menghalangi.” (Q.S Al Furqan:53)

Jika Anda termasuk orang yang gemar menonton acara televisi petualangan pasti kenal Mr.Jacques Yves Costeau , ia seorang ahli oceanografer dan ahli selam terkemuka dari Perancis. Orang tua yang berambut putih ini sepanjang hidupnya menyelam ke perbagai dasar samudera di seantero dunia dan membuat filem dokumentari tentang keindahan alam dasar laut untuk ditonton di seluruh dunia.

Pada suatu hari ketika sedang melakukan eksplorasi di bawah laut, tiba-tiba ia menemui beberapa kumpulan mata air tawar-segar yang sangat sedap rasanya kerana tidak bercampur/tidak melebur dengan air laut yang masin di sekelilingnya, seolah-olah ada dinding atau membran yang membatasi keduanya.

Fenomena ganjil itu memeningkan Mr. Costeau dan mendorongnya untuk mencari penyebab terpisahnya air tawar dari air masin di tengah-tengah lautan. Ia mulai berfikir, jangan-jangan itu hanya halusinansi atau khalayan sewaktu menyelam. Waktu pun terus berlalu setelah kejadian tersebut, namun ia tak kunjung mendapatkan jawaban yang memuaskan tentang fenomena ganjil tersebut.

Sampai pada suatu hari ia bertemu dengan seorang profesor Muslim, kemudian ia pun menceritakan fenomena ganjil itu. Profesor itu teringat pada ayat Al Quran tentang bertemunya dua lautan ( surat Ar-Rahman ayat 19-20) yang sering diidentikkan dengan Terusan Suez . Ayat itu berbunyi “Marajal bahraini yaltaqiyaan, bainahumaa barzakhun laa yabghiyaan.. .”Artinya: “Dia biarkan dua lautan bertemu, di antara keduanya ada batas yang tidak boleh ditembus.” Kemudian dibacakan surat Al Furqan ayat 53 di atas.

Selain itu, dalam beberapa kitab tafsir, ayat tentang bertemunya dua lautan tapi tak bercampur airnya diertikan sebagai lokasi muara sungai, di mana terjadi pertemuan antara air tawar dari sungai dan air masin dari laut. Namun tafsir itu tidak menjelaskan ayat berikutnya dari surat Ar-Rahman ayat 22 yang berbunyi “Yakhruju minhuma lu’lu`u wal marjaan” ertinya “Keluar dari keduanya mutiara dan marjan.” Padahal di muara sungai tidak

ditemukan mutiara.

Terpesonalah Mr. Costeau mendengar ayat-ayat Al Qur’an itu, melebihi kekagumannya melihat keajaiban pemandangan yang pernah dilihatnya di lautan yang dalam. Al Qur’an ini mustahil disusun oleh Muhammad yang hidup di abad ke tujuh, suatu zaman saat belum ada peralatan selam yang canggih untuk mencapai lokasi yang jauh terpencil di kedalaman samudera. Benar-benar suatu mukjizat, berita tentang fenomena ganjil 14 abad yang silam

akhirnya terbukti pada abad 20. Mr. Costeau pun berkata bahawa Al Qur’an memang sesungguhnya kitab suci yang berisi firman Allah, yang seluruh kandungannya mutlak benar.(berbagai sumber)

Senin, 01 Maret 2010

BIMBINGAN DAN KONSELING PART 2

A. Kesulitan Belajar.

Dalam kegiatan pembelajaran di sekolah, kita dihadapkan dengan sejumlah karakterisktik siswa yang beraneka ragam. Ada siswa yang dapat menempuh kegiatan belajarnya secara lancar dan berhasil tanpa mengalami kesulitan, namun di sisi lain tidak sedikit pula siswa yang justru dalam belajarnya mengalami berbagai kesulitan. Kesulitan belajar siswa ditunjukkan oleh adanya hambatan-hambatan tertentu untuk mencapai hasil belajar, dan dapat bersifat psikologis, sosiologis, maupun fisiologis, sehingga pada akhirnya dapat menyebabkan prestasi belajar yang dicapainya berada di bawah semestinya.

Kesulitan belajar siswa mencakup pengetian yang luas, diantaranya : (a) learning disorder; (b) learning disfunction; (c) underachiever; (d) slow learner, dan (e) learning diasbilities. Di bawah ini akan diuraikan dari masing-masing pengertian tersebut.

  1. Learning Disorder atau kekacauan belajar adalah keadaan dimana proses belajar seseorang terganggu karena timbulnya respons yang bertentangan. Pada dasarnya, yang mengalami kekacauan belajar, potensi dasarnya tidak dirugikan, akan tetapi belajarnya terganggu atau terhambat oleh adanya respons-respons yang bertentangan, sehingga hasil belajar yang dicapainya lebih rendah dari potensi yang dimilikinya. Contoh : siswa yang sudah terbiasa dengan olah raga keras seperti karate, tinju dan sejenisnya, mungkin akan mengalami kesulitan dalam belajar menari yang menuntut gerakan lemah-gemulai.
  2. Learning Disfunction merupakan gejala dimana proses belajar yang dilakukan siswa tidak berfungsi dengan baik, meskipun sebenarnya siswa tersebut tidak menunjukkan adanya subnormalitas mental, gangguan alat dria, atau gangguan psikologis lainnya. Contoh : siswa yang yang memiliki postur tubuh yang tinggi atletis dan sangat cocok menjadi atlet bola volley, namun karena tidak pernah dilatih bermain bola volley, maka dia tidak dapat menguasai permainan volley dengan baik.
  3. Under Achiever mengacu kepada siswa yang sesungguhnya memiliki tingkat potensi intelektual yang tergolong di atas normal, tetapi prestasi belajarnya tergolong rendah. Contoh : siswa yang telah dites kecerdasannya dan menunjukkan tingkat kecerdasan tergolong sangat unggul (IQ = 130 – 140), namun prestasi belajarnya biasa-biasa saja atau malah sangat rendah.
  4. Slow Learner atau lambat belajar adalah siswa yang lambat dalam proses belajar, sehingga ia membutuhkan waktu yang lebih lama dibandingkan sekelompok siswa lain yang memiliki taraf potensi intelektual yang sama.
  5. Learning Disabilities atau ketidakmampuan belajar mengacu pada gejala dimana siswa tidak mampu belajar atau menghindari belajar, sehingga hasil belajar di bawah potensi intelektualnya.

Siswa yang mengalami kesulitan belajar seperti tergolong dalam pengertian di atas akan tampak dari berbagai gejala yang dimanifestasikan dalam perilakunya, baik aspek psikomotorik, kognitif, konatif maupun afektif . Beberapa perilaku yang merupakan manifestasi gejala kesulitan belajar, antara lain :

  1. Menunjukkan hasil belajar yang rendah di bawah rata-rata nilai yang dicapai oleh kelompoknya atau di bawah potensi yang dimilikinya.
  2. Hasil yang dicapai tidak seimbang dengan usaha yang telah dilakukan. Mungkin ada siswa yang sudah berusaha giat belajar, tapi nilai yang diperolehnya selalu rendah
  3. Lambat dalam melakukan tugas-tugas kegiatan belajarnya dan selalu tertinggal dari kawan-kawannya dari waktu yang disediakan.
  4. Menunjukkan sikap-sikap yang tidak wajar, seperti: acuh tak acuh, menentang, berpura-pura, dusta dan sebagainya.
  5. Menunjukkan perilaku yang berkelainan, seperti membolos, datang terlambat, tidak mengerjakan pekerjaan rumah, mengganggu di dalam atau pun di luar kelas, tidak mau mencatat pelajaran, tidak teratur dalam kegiatan belajar, dan sebagainya.
  6. Menunjukkan gejala emosional yang kurang wajar, seperti : pemurung, mudah tersinggung, pemarah, tidak atau kurang gembira dalam menghadapi situasi tertentu. Misalnya dalam menghadapi nilai rendah, tidak menunjukkan perasaan sedih atau menyesal, dan sebagainya.

Sementara itu, Burton (Abin Syamsuddin. 2003) mengidentifikasi siswa yang diduga mengalami kesulitan belajar, yang ditunjukkan oleh adanya kegagalan siswa dalam mencapai tujuan-tujuan belajar. Menurut dia bahwa siswa dikatakan gagal dalam belajar apabila :

  1. Dalam batas waktu tertentu yang bersangkutan tidak mencapai ukuran tingkat keberhasilan atau tingkat penguasaan materi (mastery level) minimal dalam pelajaran tertentu yang telah ditetapkan oleh guru (criterion reference).
  2. Tidak dapat mengerjakan atau mencapai prestasi semestinya, dilihat berdasarkan ukuran tingkat kemampuan, bakat, atau kecerdasan yang dimilikinya. Siswa ini dapat digolongkan ke dalam under achiever.
  3. Tidak berhasil tingkat penguasaan materi (mastery level) yang diperlukan sebagai prasyarat bagi kelanjutan tingkat pelajaran berikutnya. Siswa ini dapat digolongkan ke dalam slow learner atau belum matang (immature), sehingga harus menjadi pengulang (repeater)

Untuk dapat menetapkan gejala kesulitan belajar dan menandai siswa yang mengalami kesulitan belajar, maka diperlukan kriteria sebagai batas atau patokan, sehingga dengan kriteria ini dapat ditetapkan batas dimana siswa dapat diperkirakan mengalami kesulitan belajar. Terdapat empat ukuran dapat menentukan kegagalan atau kemajuan belajar siswa : (1) tujuan pendidikan; (2) kedudukan dalam kelompok; (3) tingkat pencapaian hasil belajar dibandinngkan dengan potensi; dan (4) kepribadian.

1. Tujuan pendidikan

Dalam keseluruhan sistem pendidikan, tujuan pendidikan merupakan salah satu komponen pendidikan yang penting, karena akan memberikan arah proses kegiatan pendidikan. Segenap kegiatan pendidikan atau kegiatan pembelajaran diarahkan guna mencapai tujuan pembelajaran. Siswa yang dapat mencapai target tujuan-tujuan tersebut dapat dianggap sebagai siswa yang berhasil. Sedangkan, apabila siswa tidak mampu mencapai tujuan-tujuan tersebut dapat dikatakan mengalami kesulitan belajar. Untuk menandai mereka yang mendapat hambatan pencapaian tujuan pembelajaran, maka sebelum proses belajar dimulai, tujuan harus dirumuskan secara jelas dan operasional. Selanjutnya, hasil belajar yang dicapai dijadikan sebagai tingkat pencapaian tujuan tersebut. Secara statistik, berdasarkan distribusi normal, seseorang dikatakan berhasil jika siswa telah dapat menguasai sekurang-kurangnya 60% dari seluruh tujuan yang harus dicapai. Namun jika menggunakan konsep pembelajaran tuntas (mastery learning) dengan menggunakan penilaian acuan patokan, seseorang dikatakan telah berhasil dalam belajar apabila telah menguasai standar minimal ketuntasan yang telah ditentukan sebelumnya atau sekarang lazim disebut Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM). Sebaliknya, jika penguasaan ketuntasan di bawah kriteria minimal maka siswa tersebut dikatakan mengalami kegagalan dalam belajar. Teknik yang dapat digunakan ialah dengan cara menganalisis prestasi belajar dalam bentuk nilai hasil belajar.

2. Kedudukan dalam Kelompok

Kedudukan seorang siswa dalam kelompoknya akan menjadi ukuran dalam pencapaian hasil belajarnya. Siswa dikatakan mengalami kesulitan belajar, apabila memperoleh prestasi belajar di bawah prestasi rata-rata kelompok secara keseluruhan. Misalnya, rata-rata prestasi belajar kelompok 8, siswa yang mendapat nilai di bawah angka 8, diperkirakan mengalami kesulitan belajar. Dengan demikian, nilai yang dicapai seorang akan memberikan arti yang lebih jelas setelah dibandingkan dengan prestasi yang lain dalam kelompoknya. Dengan norma ini, guru akan dapat menandai siswa-siswa yang diperkirakan mendapat kesulitan belajar, yaitu siswa yang mendapat prestasi di bawah prestasi kelompok secara keseluruhan.

Secara statistik, mereka yang diperkirakan mengalami kesulitan adalah mereka yang menduduki 25 % di bawah urutan kelompok, yang biasa disebut dengan lower group. Dengan teknik ini, kita mengurutkan siswa berdasarkan nilai nilai yang dicapainya. dari yang paling tinggi hingga yang paling rendah, sehingga siswa mendapat nomor urut prestasi (ranking). Mereka yang menduduki posisi 25 % di bawah diperkirakan mengalami kesulitan belajar. Teknik lain ialah dengan membandingkan prestasi belajar setiap siswa dengan prestasi rata-rata kelompok. Siswa yang mendapat prestasi di bawah rata – rata kelompok diperkirakan pula mengalami kesulitan belajar.

3. Perbandingan antara potensi dan prestasi

Prestasi belajar yang dicapai seorang siswa akan tergantung dari tingkat potensinya, baik yang berupa kecerdasan maupun bakat. Siswa yang berpotensi tinggi cenderung dan seyogyanya dapat memperoleh prestasi belajar yang tinggi pula. Sebaliknya, siswa yang memiliki potensi yang rendah cenderung untuk memperoleh prestasi belajar yang rendah pula. Dengan membandingkan antara potensi dengan prestasi belajar yang dicapainya kita dapat memperkirakan sampai sejauhmana dapat merealisasikan potensi yang dimikinya. Siswa dikatakan mengalami kesulitan belajar, apabila prestasi yang dicapainya tidak sesuai dengan potensi yang dimilikinya. Misalkan, seorang siswa setelah mengikuti pemeriksaan psikologis diketahui memiliki tingkat kecerdasan (IQ) sebesar 120, termasuk kategori cerdas dalam skala Simon & Binnet. Namun ternyata hasil belajarnya hanya mendapat nilai angka 6, yang seharusnya dengan tingkat kecerdasan yang dimikinya dia paling tidak dia bisa memperoleh angka 8. Contoh di atas menggambarkan adanya gejala kesulitan belajar, yang biasa disebut dengan istilah underachiever.

4. Kepribadian

Hasil belajar yang dicapai oleh seseorang akan tercerminkan dalam seluruh kepribadiannya. Setiap proses belajar akan menghasilkan perubahan-perubahan dalam aspek kepribadian. Siswa yang berhasil dalam belajar akan menunjukkan pola-pola kepribadian tertentu, sesuai dengan tujuan yang tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan. Siswa diakatan mengalami kesulitan belajar, apabila menunjukkan pola-pola perilaku atau kepribadian yang menyimpang dari seharusnya, seperti : acuh tak acuh, melalaikan tugas, sering membolos, menentang, isolated, motivasi lemah, emosi yang tidak seimbang dan sebagainya.

B. Bimbingan Belajar

Bimbingan belajar merupakan upaya guru untuk membantu siswa yang mengalami kesulitan dalam belajarnya. Secara umum, prosedur bimbingan belajar dapat ditempuh melalui langkah-langkah sebagai berikut

1. Identifikasi kasus

Identifikasi kasus merupakan upaya untuk menemukan siswa yang diduga memerlukan layanan bimbingan belajar. Robinson dalam Abin Syamsuddin Makmun (2003) memberikan beberapa pendekatan yang dapat dilakukan untuk mendeteksi siswa yang diduga mebutuhkan layanan bimbingan belajar, yakni :

  1. Call them approach; melakukan wawancara dengan memanggil semua siswa secara bergiliran sehingga dengan cara ini akan dapat ditemukan siswa yang benar-benar membutuhkan layanan bimbingan.
  2. Maintain good relationship; menciptakan hubungan yang baik, penuh keakraban sehingga tidak terjadi jurang pemisah antara guru dengan siswa. Hal ini dapat dilaksanakan melalui berbagai cara yang tidak hanya terbatas pada hubungan kegiatan belajar mengajar saja, misalnya melalui kegiatan ekstra kurikuler, rekreasi dan situasi-situasi informal lainnya.
  3. Developing a desire for counseling; menciptakan suasana yang menimbulkan ke arah penyadaran siswa akan masalah yang dihadapinya. Misalnya dengan cara mendiskusikan dengan siswa yang bersangkutan tentang hasil dari suatu tes, seperti tes inteligensi, tes bakat, dan hasil pengukuran lainnya untuk dianalisis bersama serta diupayakan berbagai tindak lanjutnya.
  4. Melakukan analisis terhadap hasil belajar siswa, dengan cara ini bisa diketahui tingkat dan jenis kesulitan atau kegagalan belajar yang dihadapi siswa.
  5. Melakukan analisis sosiometris, dengan cara ini dapat ditemukan siswa yang diduga mengalami kesulitan penyesuaian sosial

2. Identifikasi Masalah

Langkah ini merupakan upaya untuk memahami jenis, karakteristik kesulitan atau masalah yang dihadapi siswa. Dalam konteks Proses Belajar Mengajar, permasalahan siswa dapat berkenaan dengan aspek : (a) substansial – material; (b) struktural – fungsional; (c) behavioral; dan atau (d) personality. Untuk mengidentifikasi masalah siswa, Prayitno dkk. telah mengembangkan suatu instrumen untuk melacak masalah siswa, dengan apa yang disebut Alat Ungkap Masalah (AUM). Instrumen ini sangat membantu untuk mendeteksi lokasi kesulitan yang dihadapi siswa, seputar aspek : (a) jasmani dan kesehatan; (b) diri pribadi; (c) hubungan sosial; (d) ekonomi dan keuangan; (e) karier dan pekerjaan; (f) pendidikan dan pelajaran; (g) agama, nilai dan moral; (h) hubungan muda-mudi; (i) keadaan dan hubungan keluarga; dan (j) waktu senggang.

3. Diagnosis

Diagnosis merupakan upaya untuk menemukan faktor-faktor penyebab atau yang melatarbelakangi timbulnya masalah siswa. Dalam konteks Proses Belajar Mengajar faktor-faktor yang penyebab kegagalan belajar siswa, bisa dilihat dari segi input, proses, ataupun out put belajarnya. W.H. Burton membagi ke dalam dua bagian faktor – faktor yang mungkin dapat menimbulkan kesulitan atau kegagalan belajar siswa, yaitu : (a) faktor internal; faktor yang besumber dari dalam diri siswa itu sendiri, seperti : kondisi jasmani dan kesehatan, kecerdasan, bakat, kepribadian, emosi, sikap serta kondisi-kondisi psikis lainnya; dan (b) faktor eksternal, seperti : lingkungan rumah, lingkungan sekolah termasuk didalamnya faktor guru dan lingkungan sosial dan sejenisnya.

4. Prognosis

Langkah ini untuk memperkirakan apakah masalah yang dialami siswa masih mungkin untuk diatasi serta menentukan berbagai alternatif pemecahannya, Hal ini dilakukan dengan cara mengintegrasikan dan menginterpretasikan hasil-hasil langkah kedua dan ketiga. Proses mengambil keputusan pada tahap ini seyogyanya terlebih dahulu dilaksanakan konferensi kasus, dengan melibatkan pihak-pihak yang kompeten untuk diminta bekerja sama menangani kasus – kasus yang dihadapi.

5. Remedial atau referal (Alih Tangan Kasus)

Jika jenis dan sifat serta sumber permasalahannya masih berkaitan dengan sistem pembelajaran dan masih masih berada dalam kesanggupan dan kemampuan guru atau guru pembimbing, pemberian bantuan bimbingan dapat dilakukan oleh guru atau guru pembimbing itu sendiri. Namun, jika permasalahannya menyangkut aspek-aspek kepribadian yang lebih mendalam dan lebih luas maka selayaknya tugas guru atau guru pembimbing sebatas hanya membuat rekomendasi kepada ahli yang lebih kompeten.

6. Evaluasi dan Follow Up

Cara manapun yang ditempuh, evaluasi atas usaha pemecahan masalah seyogyanya dilakukan evaluasi dan tindak lanjut, untuk melihat seberapa pengaruh tindakan bantuan (treatment) yang telah diberikan terhadap pemecahan masalah yang dihadapi siswa.

Berkenaan dengan evaluasi bimbingan, Depdiknas telah memberikan kriteria-kriteria keberhasilan layanan bimbingan belajar, yaitu :

  • Berkembangnya pemahaman baru yang diperoleh siswa berkaitan dengan masalah yang dibahas;
  • Perasaan positif sebagai dampak dari proses dan materi yang dibawakan melalui layanan, dan
  • Rencana kegiatan yang akan dilaksanakan oleh siswa sesudah pelaksanaan layanan dalam rangka mewujudkan upaya lebih lanjut pengentasan masalah yang dialaminya.

Sementara itu, Robinson dalam Abin Syamsuddin Makmun (2003) mengemukakan beberapa kriteria dari keberhasilan dan efektivitas layanan yang telah diberikan, yaitu apabila:

  1. Siswa telah menyadari (to be aware of) atas adanya masalah yang dihadapi.
  2. Siswa telah memahami (self insight) permasalahan yang dihadapi.
  3. Siswa telah mulai menunjukkan kesediaan untuk menerima kenyataan diri dan masalahnya secara obyektif (self acceptance).
  4. Siswa telah menurun ketegangan emosinya (emotion stress release).
  5. Siswa telah menurun penentangan terhadap lingkungannya
  6. Siswa mulai menunjukkan kemampuannya dalam mempertimbangkan, mengadakan pilihan dan mengambil keputusan secara sehat dan rasional.
  7. Siswa telah menunjukkan kemampuan melakukan usaha –usaha perbaikan dan penyesuaian diri terhadap lingkungannya, sesuai dengan dasar pertimbangan dan keputusan yang telah diambilnya

BIMBINGAN KONSELING

KOMPETENSI GURU BK

A. Memahami secara mendalam konseli yang hendak dilayani

  1. Menghargai dan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, individualitas, kebebasan memilih, dan mengedepankan kemaslahatan konseli dalam konteks kemaslahatan umum: (a) mengaplikasikan pandangan positif dan dinamis tentang manusia sebagai makhluk spiritual, bermoral, sosial, individual, dan berpotensi; (b) menghargai dan mengembangkan potensi positif individu pada umumnya dan konseli pada khususnya; (c) peduli terhadap kemaslahatan manusia pada umumnya dan konseli pada khususnya; (d) menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia sesuai dengan hak asasinya; (e) toleran terhadap permsalahan konseli, dan (f) bersikap demokratis

B. Menguasai landasan teoritik bimbingan dan konseling.

  1. Menguasai landasan teoritik bimbingan dan konseling; (b) menguasai ilmu pendidikan dan landasan keilmuannya; (c) mengimplementasikan prinsipprinsip pendidikan dan proses pembelajaran; (d) menguasai landasan budaya dalam praksis pendidikan
  2. Menguasai esensi pelayanan bimbingan dan konseling dalam jalur, jenjang, dan jenis satuan pendidikan: (a) menguasai esensi bimbingan dan onseling pada satuan jalur pendidikan formal, non formal, dan informal; (b) menguasai esensi bimbingan dan konseling pada satuan jenis pendidikan umum, kejuruan, keagamaan, dan khusus; dan (c) menguasai esensi bimbingan dan konseling pada satuan jenjang pendidikan usia dini, dasar dan menengah.
  3. Menguasai konsep dan praksis penelitian bimbingan dan konseling: (a) memahami berbagai jenis dan metode penelitian; (b) mampu merancang penelitian bimbingan dan konseling; (c) melaksanakan penelitian bimbingan
    dan konseling; (d) memanfaatkan hasil penelitian dalam bimbingan dan konseling dengan mengakses jurnal pendidikan dan bimbingan dan konseling.
  4. Menguasai kerangka teori dan praksis bimbingan dan konseling: (a) mengaplikasikan hakikat pelayanan bimbingan dan konseling; (b) mengaplikasikan arah profesi bimbingan dan konseling; (c) mengaplikasikan dasar-dasar pelayanan bimbingan dan konseling; (d) mengaplikasikan pelayanan bimbingan dan konseling sesuai kondisi dan tuntutan wilayah kerja; (e) mengaplikasikan pendekatan/model/ jenis layanan dan kegiatan pendukung bimbingan dan konseling; dan (f) Mengaplikasikan dalam praktik format pelayanan bimbingan dan konseling.

C. Menyelenggarakan bimbingan dan konseling yang memandirikan

  1. Merancang program bimbingan dan konseling: (a) menganalisis kebutuhan konseli; (b) menyusun program bimbingan dan konseling yang berkelanjutan berdasar kebutuhan peserta didik secara komprehensif dengan pendekatan perkembangan; (c) menyusun rencana pelaksanaan program bimbingan dan konseling; dan (d) merencanakan sarana dan biaya penyelenggaraan program bimbingan dan konseling.
  2. Mengimplemantasikan program bimbingan dan konseling yang komprehensif: (a) Melaksanakan program bimbingan dan konseling: (b) melaksanakan pendekatan kolaboratif dalam layanan bimbingan dan konseling; (c) memfasilitasi perkembangan, akademik, karier, personal, dan sosial konseli; dan (d) mengelola sarana dan biaya program bimbingan dan konseling.
  3. Menilai proses dan hasil kegiatan bimbingan dan konseling: (a) melakukan evaluasi hasil, proses dan program bimbingan dan konseling; (b) melakukan penyesuaian proses layanan bimbingan dan konseling; (c) menginformasikan hasil pelaksanaan evaluasi layanan bimbingan dan konseling kepada pihak terkait; (d) menggunakan hasil pelaksanaan evaluasi untuk merevisi dan
    mengembangkan program bimbingan dan konseling.
  4. Mengimplementasikan kolaborasi intern di tempat bekerja: (a) memahami dasar, tujuan, organisasi dan peran pihak-pihak lain (guru, wali kelas, pimpinan
    sekolah/madrasah, komite sekolah/madrasah di tempat bekerja; (b) mengkomunikasikan dasar, tujuan, dan kegiatan pelayanan bimbingan dan konseling kepada pihak-pihak lain di tempat bekerja; dan (c) bekerja sama dengan pihak-pihak terkait di dalam tempat bekerja seperti guru, orang tua, tenaga administrasi)
  5. Berperan dalam organisasi dan kegiatan profesi bimbingan dan konseling: (a) Memahami dasar, tujuan, dan AD/ART organisasi profesi bimbingan dan konseling untuk pengembangan diri.dan profesi; (b) menaati Kode Etik profesi
    bimbingan dan konseling; dan (c) aktif dalam organisasi profesi bimbingan dan konseling untuk pengembangan diri.dan profesi.
  6. Mengimplementasikan kolaborasi antar profesi: (a) mengkomunikasikan aspek-aspek profesional bimbingan dan konseling kepada organisasi profesi lain; (b) memahami peran organisasi profesi lain dan memanfaatkannya untuk suksesnya pelayanan bimbingan dan konseling; (c) bekerja dalam tim bersama tenaga paraprofesional dan profesional profesi lain; dan (d) melaksanakan referal kepada ahli profesi lain sesuai keperluan.

Sumber : ABKIN. 2007. Naskah Akademik Rambu-Rambu Penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling dalam Jalur Pendidikan Formal dan Non Formal

Selasa, 29 Desember 2009

SEBUAH FAKTA

ini merupakan sebuah fakta dalam kehidupan, dimana selalu ada masa masa diatas maupun dibawah, tapi mungkin sifat manusia yang tidak bisa dihilangkan. mereka ketika berada diatas lupa akan keadaan ketika mereka ada dibawah. mereka inginnya menindas dan menyuruh kepada mereka yang ada di bawah mereka. Namun mereka lupa akan kedailan Alloh, mereka lupa akan segalanya. mereka lupa dari mana mereka berasal, sungguh sombongnya manusia itu

PERANAN ORANG TUA TERHADAP ANAK

Peran Orangtua Terhadap AnakSebelum saya menjelaskan persoalan Anak ini, saya akan mengajak anda membaca berita tentang seorang pemain sirkus di Cairo Mesir, yang diceritakan kembali oleh Syekh Mustafa Mahmud dalam bukunya ‘Aku Telah Melihat Allah’.

Harian yang terbit pada hari itu sangat menarik dengan adanya tajuk berita tentang sirkus yang mengadakan pertunjukan keliling yang mengalami peristiwa yang jarang, bahkan belum pernah terjadi pada tiap kali mengadakan pertunjukan. Pertunjukan kali ini dikejutkan dengan si harimau “Sultan” yang biasa menyajikan keterampilannya di hadapan penonton, berbalik menjadi buas dan menerkam pelatihnya dari belakang, sewaktu sang pelatih Muhammad Al Hulu menghadapkan dirinya ke arah penonton dan memberi hormat tanda terima kasih. Mari kita baca berita selengkapnya apa yang di tulis wartawan harian tersebut:

Setelah tiba giliran untuk menyajikan pertunjukan keterampilan harimau, maka penonton pun bersorak dan bertepuk tanda gembira, yang memang adegan inilah yang sangat di nanti-nantikan, terutama kanak-kanak yang tiada putus-putusnya bersiul dan bersorak. Tidak lama dengan di iiringi tabuh genderang tersingkaplah tabir dari pintu belakang, maka keluarlah si Sultan, … harimau yang terampil dan di belakangnya berjalan sang pelatih dengan senyum bangga dan di tangan kanannya ia memegang cemeti komando yang biasa di gunakan untuk memerintah si Sultan melakukan sesuatu kemahiran sesuai dengan kehendak sang pelatih, sang pelatih memulai mengangkat kedua tangannya tanda besiap-siap dan suara ramai mulai berkurang dan berhenti. pertunjukan pun di mulai.

Adegan demi adegan selesai di pertunjukkan, penonton menggeleng-nggelengkan kepala tak henti-hentinya terheran-terheran dibuat oleh kepandaian si harimau yang patuh pada perintah-perintah sang pelatih … Selesai adegan terakhir, pelatihpun menghadapkan mukanya ke arah penonton membalas sorak sorai dan memberi hormat tanda terima kasih, … namun tiba-tiba secepat kilat tanpa didahului tanda-tanda apapun si Sultan yang tadinya jinak dan patuh, melompat ke arah punggung pelatihnya dengan muka yang buas dan garang, dengan auman yang menyeramkan terlihat taring giginya yang tajam dibenamkan ke dalam punggung si pelatih, dirobek kulit dan dagingnya yang menyebabkan lumuran darah yang menggenang di atas tanah. Pelatih yang dalam keadaan tersungkur di bawah tindihan harimau tak dapat sedikitpun mengelak dan mengadakan perlawanan.

Penonton setelah mengetahui dan melihat apa yang terjadi, saling lari tunggang langgang ribut cepat-cepat meninggalkan tempatnya, dan pada saat itu pula tampillah anak sipelatih dengan membawa sepotong tongkat besi berusaha sekuat tenaga untuk menyelamatkan ayahnya, … tak lama hanya beberapa hari di rumah sakit, meninggallah sang ayah dengan hanya meninggalkan pesan singkat “Jangan sakiti dan jangan dibunuh”. Pelatih penjinak raja rimba meninggal dalam cengkeraman anak latihnya sendiri.

Sekarang mari kita tengok bagaimana halnya dengan si harimau. Setelah kejadian diatas dia langsung di masukkan ke dalam kandangnya, dan anehnya dia lebih banyak berdiam diri dari pada kebiasaannya jalan hilir mudik. Dia seakan-akan menyesali atas apa yang ia lakukan, sedih, melamun dan tidak mau makan. Hal ini segera dilaporkan kepada pimpinan, maka segera pimpinan sirkus menghubungi pengurus kebun binatang untuk memindahkan harimau. Pindahlah si harimau kekebun binatang dalam kandang besar dan lebih leluasa untuk bergerak. Enggan makan tetap tidak berubah walaupun sudah berada di kebun binatang, pengawas kebun binatang selalu mengawasi gerak-geriknya, lama-lama timbul pikiran” mungkin kalau disertai hewan betina maka ia kembali makan”. Dipilihlah lawan betina, lalu segera di masukkan kedalam kandang” sipelamun yang enggan makan, begitu lawan betina masuk, tanpa ucapan selamat datang langsung disambut dengan raungan yang menyeramkan, diserang, dicakar, digigit dan didorong, itulah sambutannya, dia menampakkan kebencian dan kemarahannya … keluarlah si betina dan kembalilah si Sultan seorang diri.

Penyesalan yang mendalam makin hari makin nampak walau tanpa bicara sekalipun. Sepintas lalu orang dapat memahami arti sikapnya yang demikian, dia dihantui oleh perbuatannya sendiri, gambar dari peristiwa yang mengerikan tidak dapat dihilangkan dari ingatannya. Tebusan apakah yang dapat memadai dengan perbuatannya ??

Makanan yang selalu diberikan oleh si penjaga tidak lagi di jamah sama sekali, … mogok makan ! Mungkin cara ini dapat memadai pikirnya, ah tidak ! belum memadai … gambaran-gambaran yang menyeramkan masih juga menghantui. Pada suatu hari, tibalah putusan terahir …” nyawa harus dibayar dengan nyawa’ tidak lain … syarafnya sudah berubah, putusannya sudah bulat, tindakannya sudah nekad. Dimarahinya diri sendiri, semula ekornya di belah dan di robek-robek, tiba sekarang gilirannya, tangan yang sudah ternoda dosa, dicaplok sendiri, dikunyak dan dilahapnya, dagingnya sendiri dimakan habis, dari tangan yang kanan berpindah ke tangan yang kiri, keduanya habislah sudah. Tangan-tangan yang sudah berbuat dosa, tiada tebusan lain melenyapkan kedua tangan tersebut. Baru sekarang tentramlah hatinya, dia sudah mengorbankan anggota badannya sendiri karena perbuatannya sendiri, ketentraman untuk selama-lamanya yang di iringi dengan kematiannya…..

Dari peristiwa diatas kita beralih ke diri kita, …. pada diri manusia, makhluk yang beradab, yang memiliki akal pikiran, memiliki nurani dan rasa, yang tahu sopan santun, tahu tata cara dan sebagainya. Sudah pernahkah kita mendengar pengorbanan manusia di karenakan penyesalan karena perbuatannya sendiri ? Pernahkah kita melihat manusia dengan penyesalannya memilih tebusan nyawanya ? Malahan kebalikannya yang kita dapati, manusia berbangga diri dengan kemenangan atas lawannya, hingga merupakan kebanggaan yang meluap-luap, dirayakan dengan iringan tabuh-tabuhan dan tari-tarian, dihidang-kan pula makanan lezat dan minuman segar. Jauh sekali dengan tindakan harimau diatas, kemenangannya dirayakan dengan tebusan nyawa…..

Sebenarnya sudah terjalin kasih sayang antara si harimau dengan sang pelatih, ucapan terkahir dari sang pelatih rupanya terdengar dengan si harimau, ucapan “jangan di sakiti dan jangan dibunuh” !! , maka ucapan ini di balas pula dengan ucapan jantan yang sesuai dengan martabat raja rimba. Timbul suatu pertanyaan mengapa seekor binatang memiliki pengertian dan menangkap keinginan kita. Bahkan bersikap seperti kepada indungnya, bersikap manja, mencari perhatian serta mengenal siapa tuannya. dan dia menangkap perasaan sedih dan kegembiraan tuannya … Dan dari peristiwa diatas terdapat kesimpulan, bahwa binatang yang berjuluk si raja Rimba ternyata bisa kita ajak berbicara, bergaul, bercanda, bermain, bermanja-manja, mengerti keinginan kita, mampu berkomunikasi dengan rasa, dan menangkap kecintaan dan kasih sayang yang dalam … dan ia menyesali atas kesalahan yang telah dilakukan terhadap tuannya ….tetapi mengapa manusia kadang tidak mampu menangkap keinginan kita ?? Bahkan sering mengabaikan kata-kata sebagai bahasa peradaban manusia yang tinggi. Entah berapa kali kita dinasehati oleh orang tua kita, oleh guru kita, akan tetapi mengapa kita tidak mampu mencerap nasehat itu, padahal bahasa itu sangat mudah dipahami…. Juga ketika berbicara kepada istri dan anak kita, terasa sekali kata-kata kita tidak menembus dan mengubahkan perilaku atau perasaan anak dan istri, sehingga tetap saja mereka melakukan hal yang tidak baik … sampai-sampai kita menjadi marah bahkan ingin sekali memukulnya agar menuruti kemauan kita. Hampir tidak ada cara untuk mengatasi persoalan ini, untuk melampiaskannya kita mencoba mengirim anak-anak ke asrama atau pesantren yang dididik disiplin secara ketat, namun tetap saja masalah itu tidak teratasi, … bahkan kadang anak kita tidak menjadi dirinya yang sebenarnya, karena doktrin yang mengekang perkembangan mental anak tersebut.

Rasa adalah sebuah penghubung keinginan kita

Ada saluran yang tidak terhubung kepada anak kita, selama ini kita berkomunikasi kepada anak kita menggunakan saluran gelombang suara yang menghantarkan susunan huruf yang mengandung arti tertentu (kata-kata), pesan-pesan dari mata (apa yang dilihat), telinga (yang didengar), peraba (apa yang disentuh), perasa (lidah), penciuman di bawa melalui thalamus. Thalamus bersama cortex adalah pusat yang menggabungkan informasi yang baru masuk supaya semua data yang masuk menjadi sebuah pengalaman … syaraf mendorong ke dalam dua tonjolan kecil di bagian dasar thalamus ini.

Dan manusia memiliki pengalaman karena data-data yang masuk menjadi sebuah pengertian. akan tetapi dari semua itu tidak tertulis data yang berasal dari “rasa” yang juga bisa memberikan masukan data yang disampaikan kepada thalamus untuk memberikan pengertian dan pengalaman, .karena rasa sayang itu bukan berasal dari sentuhan, penglihatan, kata-kata, dan instrumen tubuh …akan tetapi berasal dari rasa rohani yang memiliki banyak data untuk memberikan pengalaman bagi kita. Misalnya rasa cinta, rasa rindu, rasa gundah, rasa marah, rasa sayang …semua itu bukan dari data yang disampaikan oleh indra tubuh kita, akan tetapi dari rohani atau jiwa kita…

Kita telah menghilangkan data informasi yang paling penting dalam diri kita dan anak kita…setelah kita memberikan informasi berupa data-data, … berupa apa yang dilihat, apa yang didengar, apa yang di sentuh …namun apa yang di rasa rupanya telah hilang. Kita telah meninggalkan komunikasi rasa yang memiliki muatan pengertian yang hakiki dan lengkap, … kata-kata dan informasi yang diberikan oleh tubuh tidak mampu memberikan selengkap rasa, … namun cinta dan kasih sayang memiliki kesempurnaan informasi dan tidak cacat !!

Jika hal ini anda informasikan kepada binatang, kepada tanaman, kepada benda-benda, … maka informasi rasa itu akan ditangkapnya dan sebaliknya anda akan menangkap keinginan semua yang anda beri informasi tersebut…

Rasulullah menggambarkan adanya rasa ini adalah dengan di anjurkannya saling memberikan salam dan silaturrahmi, guna menghubungkan rasa yang memiliki data lengkap mengenai keinginan antara kita ! Sehingga mustahil kita akan terjadi konflik jika anda mengerti keinginan saya secara lengkap… lebih lengkap dari kata-kata….!!

Mari kita bahas secara khusus ..apakah silaturrahmi itu ??

Saya akan tunjukkan sebuah hadits Rasulullah mengenai hal ini.

“Shil man qatha aka …wa ahsin ila man asa’a ilaika. wakulil haqq walau `ala nafsika!!”

Sambungkan silaturrahmi yang terputus, dan bersikaplah ihsan (baik) kepada orang yang membeci kamu, dan katakanlah kebenaran (secara jujur) walaupun kepada dirimu sendiri ( Hadits shahih riwayat Ali dari Ibnu Najar, kitab Jami’ush Shaghier jilid II hal. 44 )

Kalimat “Shil ” adalah bentuk perintah (amar) berasal dari kata shalla-yashillu-shillatan, yang berarti menghubungkan …seperti pada kalimat “shilatur rahmi” menghubungkan rasa sayang ….

Seperti apa yang saya katakan diatas bahwa rahmi/ rahiem (rasa sayang) tidak termasuk indra dalam fisik kita yang selama ini memberikan informasi kepada otak untuk mendapatkan pengertian dan pengalamannya. Akan tetapi rasa sayang ini berasal dari rohani atau jiwa, sehingga kita membutuhkan pengertian lagi untuk mengetahui ‘apa itu rasa’ dan ‘bagaimana’ kita menghubungkan rasa itu kepada otak kita dan orang lain, walaupun orang lain itu tidak mampu menangkap rasa itu sebelumnya. Namun dikarenakan rasa itu bersifat rohani yang bisa di salurkan kedalam jiwa orang itu maupun kepada binatang maka orang itu akan menerima rasa itu dengan lengkap dan sempurna …

Pengalaman sehari-sehari kita sering menerapkan hal ini tanpa kita sadari, bagi orang yang penyayang binatang akan mengerti akan hal ini, karena rasa sayang ia salurkan setiap saat, sehingga binatang itu mampu menangkap pengertian yang disalurkan melalui rasa itu ….Rasa sayang benar-benar merupakan sarana untuk menghantarkan sebuah pengertian, seperti sebuah kalimat yang terangkai dalam intonasi dan artikulasi yang menghasilkan bunyi dan mengandung makna yang mampu menghubungkan sebuah pengertian yang biasa disebut dengan bahasa !!

Seorang bayi memiliki kepekaan menangkap informasinya melalui rasanya..dan seorang ibu adalah orang yang memiliki kemampuan memberikan informasi kepadanya, kadang melalui saat menyusui, … saat dalam dekapan, … dalam kidung-kidung yang sejuk, serta dalam kecintaannya yang tulus ….

Dalam keadaan rasa tersambung itulah sang ibu memberikan informasi rasa sayang (silaturrahmi) yang akan menghantarkan keinginan dan keadaan jiwa orang tuanya. Jika ternyata orang tuanya memilki hati yang kotor, … sang bayi akan menangkap dan akhirnya terkontaminasi oleh polusi jiwa orang tuanya, sehingga jangan heran jika anak-anak kita menjadi aneh pada usia yang sangat muda telah melakukan kejahatan yang tidak pernah kita ajarkan. Memang kita tidak pernah mengajarkan sesuatu yang buruk dihadapan anak kita, akan tetapi keadaan jiwa kita lah yang tertangkap oleh jiwa anak kita ketika masih bersih (fitrah)….Kita telah menghubungkan rasa buruk (silatus su’) kepada jiwa anak kita … Mengapa uang hasil korupsi, hasil mencuri, hasil menipu itu di haramkan, padahal secara fisik makanan yang kita beli adalah yang terbaik dan bergizi, berlebel halal dari MUI, dan akan menyebabkan secara fisik membentuk pertubuhan yang baik dan sehat. Akan tetapi, … karena jiwa sang ayah telah terkotori karena melanggar ketentuan Tuhannya dan mengabaikan kesucian jiwa, … maka jiwa sang ayah telah memberikan informasi (mentransfer) kekotoran jiwanya kemudian di tangkap oleh jiwa anak-anak yang tidak tahu apa-apa ! Informasi inilah yang akan menuntun kejiwaan anak-anak ini untuk melakukan watak kejahatan-kejahatan yang baru diperolehnya tanpa disadarinya….

Sering kita mendengar mitos di dalam masyarakat tradisonal, hati-hati lho, kalau istri sedang hamil jangan membunuh binatang, … jangan berkata rusuh (kotor) nanti anakmu cacat … Kalau saya tangkap pesan orang tua dulu, itu adalah bukan cacat secara fisik akan tetapi cacat mentalnya / jiwanya. Karena seseorang yang membunuh binatang bisa dipastikan dia menggunakan kejiwaan yang keji dan rasa benci yang timbul dalam jiwanya dan jiwa inilah yang akan tertangkap pertama kali oleh jiwa anak-anak kita yang pada akhirnya kita ikut andil meletakkan batu pertama kerusakan dimuka bumi ini dengan menyimpan memori kejahatan dibalik jiwa anak kita….

Akan tetapi jika jiwa kita bersih dan menjaga agar tetap bersih akan secara otomatis mengalirkan jiwa yang bersih kepada anak-anak kita …dan kita telah termasuk ikut andil dalam membangun masyarakat sakinah .

Rasulullah telah mencontohkannya dalam bergaul dan menghubungkan rasa sayang kepada kedua cucunya, beliau diminta merangkak untuk menjadi kuda-kudaan, dengan perasaan sayang Rasulullah menemani cucunya dengan sikap kekanak-kanakan yang beliau ekspresikan untuk menyenangkan kedua permata hatinya.

Rasulullah sangat mencintai istri-istrinya karena dengan cinta dan rasa sayang, para istri mampu menangkap keinginan dan pesan-pesan jiwa Rasulullah yang suci….

Mari kita perhatikan hubungan antara sang bayi dan ibunya ketika proses menyusui.

Seorang ibu, yang keinginan untuk menyusuinya besar, akan lebih berhasil dalam usahanya dari pada ibu yang dari semula memang enggan. Dalam menyusui ada suatu kerja sama antara ibu dan anak, reaksi yang saling bersambut. Bila mulut bayi menyentuh puting susu ibunya, refleks penghisapnya segera bekerja, sedangkan pada ibunya agar susu bisa mengalir lancar, yang terjadi ; …. suatu hormon lain dari kelenjar bawah otak yang dinamakan oksitoksin akan menimbulkan kontraksi pada sel-sel lain sekitar alveoli, mengakibatkan susu mengalir turun ke arah puting, sehingga bisa di isap oleh bayi. Turunnya susu dari alveoli disebut refleks pengaliran susu. Refleks ini merupakan reaksi dari isapan bayi. Ibu dan bayi akan merasakan kenikmatan yang menyenangkan bila tubuh ibu telah terbiasa untuk kengalirkan susu. Emosi dan keadaan psikis si ibu sangat mempengaruhi refleks pengaliran susu ini, karena refleks ini pengontrol perintah yang dikirimkan oleh hipotalamus pada kelenjar bawah otak. Bila di pengaruhi ketegangan, rasa cemas, takut dan kebingungan, susu tak akan turun dari alveoli menuju puting. Hal ini sering terjadi pada hari-hari pertama waktu menyusui, di mana refleks si ibu belum sepenuhnya berfungsi, refleks pengaliran susu dapat berfungsi dengan baik hanya dalam suasana tenang, santai & tidak tegang. Suasana ini bisa dicapai bila si ibu punya kepercayaan pada diri sendiri bahwa ia pasti bisa menyusui. Dan dengan adanya rasa tenang dan gembira sangat mempengaruhi kejiwaan anak secara langsung melalui aliran jiwa yang bening ….

Lalu bagaimana mengalirkan informasi kejiwaan kepada anak-anak kita yang sudah beranjak dewasa ??

Rasululah menyarankan untuk bersilaturrahmi, mengirimkan rasa sayang dan gembira serta menerima anak-anak itu apa adanya … alirkanlah rasa sayang itu benar-benar dari jiwa yang bersih …. ketika ia sedang tidur … ketika sedang bepergian … dengan cara mendoakan secara khusus …dengan perasaan hening dan damai … lama kelamaan anak-anak kita akan mengerti kejiwaan secara
penuh dan sempurna …

Anak-anak anda akan menuruti kemauan anda dengan damai serta menerima dengan baik keinginan yang tersembunyi dalam pikiran dan perasaan anda. Mungkin inilah yang dimaksud dengan kecerdasan jiwa, yang telah lama di tinggalkan oleh kebanyakan orang islam ..

Doakan anak-anak kita dengan getaran jiwa yang bersih, biasanya getaran itu bersambung … kadang-kadang anak-anak itu melaksanakan keinginan kita yang belum terucapkan kepada mereka … rasakan getaran sayang anda … rasakan dan masukkan pesan-pesan anda dalam doa … hantarkan jiwa mereka menuju kepada Allah … hantarkan dengan rasa cinta … tetaplah dalam dekapan sayang … agar anda merasakan hangatnya cinta itu … biarkan hati anda memandang jiwa mereka dengan bening …

Lakukanlah sesering mungkin, … .insya Allah jiwa anak-anak kita akan menerima pesan-pesan secara lengkap …. dari jiwa kita yang bergantung pasrah kepada Allah….

Suatu ketika saya kedatangan seorang tamu, … mengeluhkan anaknya yang terjerumus kedalam pergaulan generasi pengguna narkontika … sang ibu bingung karena anaknya jarang pulang. Saya menyarankan kepada ibu ini agar bersujud menghubungkan rohaninya kepada Allah kemudian mengeluhkannya kepada-Nya … dan mengalirkan perasaannya kepada jiwa anaknya yang telah
terjerumus ini … tidak lama kemudian anaknya pulang, … kemudian tanpa di suruh dan diperintahkan apa-apa oleh ibunya … tiba-tiba dia ingin terbebas dari kecanduan narkotika (jenis putau) … Dengan keinginan yang tulus, akhirnya anak tersebut sembuh secara total bahkan melaksanakan shalat yang wajib !!

Dan kepada orang yang membenci kalian, Rasulullah menganjurkan agar posisi jiwa kita tetap bersih …tanpa membalas kebencian itu, … karena silaturrahmi kita tidak akan sampai kepada jiwa dia yang sedang sakit, untuk itu pertahankanlah kebesihan jiwa kita agar kita bisa berkomunikasi kepada siapa saja dengan jiwa yang mampu menembus … alam-alam yang jauh disana …

Seorang ibu yang telah terhubung perasaannya dengan anaknya yang berada jauh di perantauan, akan merasakan getaran jiwa anaknya yang sedang dilanda kegalauan dan persoalan yang terjadi padanya. Ini dikarenakan rasa jujur dari seorang ibunya yang mengalirkan rasa cinta dan sayang, sehingga rasa itu ditangkap oleh jiwa anak itu… Akan tetapi jika rasa sayang yang mengalir kedalam jiwa anak itu tidak memberikan pesan apa-apa, maka jadilah anak itu menjadi anak yang hanya bermanja-manja, dikarenakan rasa itu tidak mengirimkan sinyal informasi keinginan kita, … kecuali kekosongan. Atau sebaliknya jika rasa sayang itu mengalir dengan keadaan jiwa kotor maka “rasa” itu memuat keadaan keburukan jiwa kita, … hal ini bukan seperti yang disebut dengan dosa warisan dalam ajaran kristiani, karena hanya bersifat informasi seperti halnya anda mendapatkan informasi dari pesan-pesan yang di muat dalam bentuk suara (rumus-rumus huruf / kalimat ), gelombang radio, gelombang UHF dll. …

Demikian kiranya informasi yang saya utarakan merupakan keadaan yang mudah kita laksanakan, asalkan kita mampu membersihkan jiwa kita dengan banyak berdzikir kepada Allah…dengan banyak berdzikir kepada Allah jiwa kita akan menjadi tenang ..dan ketenangan jiwa inilah yang bersifat universal mampu menghantarkan muatan pengertian yang terkandung dalam jiwa kita ….

Namun dari semua itu saya tidak berani mengatakan bahwa jiwa kita yang kotorlah yang ikut andil besar dalam merusak mental anak-anak kita …hal ini saya hanya menampilkan sebuah faktor yang paling penting dari semua pengaruh terhadap mental anak kita … Karena itu, saya menggantungkan kepada Allah semata …dengan menyerahkan kepada Allah melalui doa-doa, … karena sehebat apapun kita …tetap Allah jualah yang akan membukakan hidayah untuk anak-anak kita …innaka la tahdi man ahbabta…sesungguhnya kalian tidak akan mampu membukakan hidayah kepada orang yang kamu cintai sekalipun ….

Demikian uraian saya agar menjadi renungan kita bersama ….setelah kita berusaha membimbing anak-anak kita …mari kita berdoa dengan tulus untuk jiwa anak-anak kita .

Ya Allah …berkehendaklah …terhadap diriku dan anak cucuku ……

Fenomena Seks Bebas di Kalangan Remaja, Haruskah di Biarkan?

yah, bicara soal remaja tidak akan pernah lepas dari percintaan remaja. Tentu semua remaja telah mengalaminya, bukan? Ya, hampir seluruh remaja di Dunia termasuk Indonesia mempunyai suatu budaya untuk mengekspresikan percintaan remaja itu sendiri yang biasa kita sebut sebagai “Pacaran”.

Pacaran, bukan hal yang lazim lagi di kalangan remaja saat ini. Mulai dari berbagai jenjang pendidikan mereka. Mulai dari Anak-anak kuliah sampai SMP (bahkan anak SD pun mulai mencoba-coba). Mulai dari tingkatan remaja awal sampai remaja akhir, rata-rata mereka sudah mempunyai ‘pacar’. Macam-macam pula remaja mengekspresikan rasa cintanya pada sang ‘pacar; dengan berbagai cara. Mulai dari yang biasa sampai yang tidak bisa diterima secara moral karena perbuatan mereka telah melanggar ketentuan norma yang ada. Salah satu cara yang merupakan cara yang paling tidak diterima di kalangan masyarakat adalah seks bebas.

Seks bebas merupakan cara mengekspresikan cinta yang paling melanggar norma-norma masyarakat. Seks bebas juga merupakan suatu hal yang “Anehnya” mulai dianggap hal yang biasa bagi beberapa remaja di Indonesia. Mengapa? Hal ini tidak terlepas dari media-media massa/elektronik, westernisasi (kebarat-baratan) atau pun salah pergaulan. Mereka yang kurang pendidikan agamanya atau mereka yang kurang terdidik moral nya dan lebih sering melihat atau menonton acara-acara yang dianggap menjadi dasar dari perbuatannya, seperti sinetron atau film, tentu saja hal ini akan membentuk perilaku remaja yang cenderung tersesat dalam pergaulan nya atau lebih bisa lebih buruk lagi.

Pendidikan seks di kalangan remaja tampaknya belum terlihat realisasi nya, terbukti dengan banyaknya kasus tentang kehamilan di luar nikah atau penyakit menular seperti HIV/AIDS dan sebagainya. Memang tidak semua remaja harus diberi pengarahan tentang hal ini karena mereka seharusnya sudah dapat berpikir secara matang tentang nilai-nilai atau norma-norma yang berlaku di masyarakatnya. Namun, sebagaimana yang kita ketahui bersama, bahwa remaja cenderung labil dalam emosi dan pengetahuan serta pengalaman yang dimiliki mereka masih belum bisa membuat remaja itu menentukan tindakannya secara benar. Hal inilah yang menyebabkan seks bebas di kalangan remaja semakin memburuk. Tentu masih banyak penyebab-penyebab remaja cenderung melakukan seks bebas.

Haruskah kita biarkan hal ini tetap terjadi? Haruskah budaya yang seperti ini menghancurkan remaja-remaja atau pemuda-pemuda negeri ini? Tidak! Lalu bagaimana caranya membimbing para remaja agar tidak tersesat dalam pergaulan bebas? Ini beberapa cara yang dapat dilakukan baik pihak sekolah, lingkungan, keluarga, juga remaja itu sendiri untuk sebagai ‘pencegahan dini’ dari pergaulan bebas remaja:

  1. Perlunya kerja sama antara orang tua dengan pihak sekolah mengenai pendidikan moral anak mereka. Hal ini tentunya akan membuat pihak sekolah lebih ketat dalam urusan moral para siswa nya.
  2. Keaktifan dari para guru BP/BK/P2S untuk mencegah dan mengajarkan moral dan etika kepada para siswa nya dan memberi peringatan yang keras kepada mereka agar tidak mengulangi nya lagi.
  3. Perlu adanya kedekatan para orangtua dengan anak-anak mereka sehingga terjalin suatu hubungan yang baik di mana anak-anak mereka dapat menuruti nasihat serta perintah dan jujur dengan orangtua mereka sendiri.
  4. Perlunya pengawasan atas media yang di tonton oleh para orangtua terhadap anak mereka. Hal ini sangat penting karena media saat ini merupakan acuan para remaja(anak-anak mereka)dalam mencari trend.
  5. Untuk para remaja, kalian harus lebih selektif dalam mencari kelompok bermain yang baik. Bukan berarti hal ini akan membuat pergaulan kalian menjadi kaku, namun hal ini dapat membuat kalian jauh dari pergaulan yang salah. Ekspresi kan kecintaan kalian dengan sang ‘pacar’ dalam hal yang positif. Bisa dalam bentuk inspirasi dalam membuat novel atau cerpen dan lagu. Hal ini akan membuat kalian lebih produktif dan itu tentu bermanfaat bagi kekreatifan kalian.

Masih banyak lagi yang dapat dilakukan sebagai pencegahan dini dalam menanggulangi pergaulan bebas. Semoga bermanfaat.